HEYHOTICCO MARK II

Wednesday, January 06, 2016

Tak terasa, sudah cukup lama saya vakum ngeblog. Bisa jadi karena saya lagi (sok) sibuk dengan apa yang saya lakukan di dunia nyata, atau mungkin saya bosan dengan blog saya. Mungkin tampilan dan nama blog saya tersebut masih terlalu rumit sehingga saya merasa lelah apabila melihat blog secara terus-menerus. Saya tidak bisa membayangkan apabila saya menjadi pemilik blog dengan tampilan yang sungguh sangat rich. Mulai dari perpaduan warna tulisan dan background yang menyiksa sehingga tingkat keterbacaan blog menjadi berkurang, layout blog yang complicated sehingga tidak user friendly, sampai dengan tulisan2 dengan efek glitter seperti era Friendster.

Dalam kevakuman ngeblog tersebut, saya sering tiba-tiba kangen sama blog saya yang lama, namanya heyhoticco.blogspot.com. Semacam kesan pertama yang tak terlupakan. Ada sebuah ikatan emosional yang kuat antara saya dan mantan blog saya tersebut (ciyee… mantan).

Sayapun iseng-iseng mengganti nama blog saya dengan heyhoticco.blogspot.com dan Alhamdulillah berhasil. Padahal, jaman dahulu saya pernah iseng-iseng ganti nama jadi nama tersebut tapi gagal. Nampak seperti sebuah jawaban dari sang pencipta atas kegelisahan yang saya alami.

Setelah sukses balik nama menjadi heyhoticco.blogspot.com sayapun mulai sedikit merevitalisasi tampilan blog ini agar lebih fresh dan awet muda (seperti saya). Setelah tampilan menjadi lebih fresh lalu saya mulai menulis curhat awal tahun.

Curhat awal tahun ini dimulai dengan sebuah pertanyaan tentang makna sebuah nama. Mengapa heyhoticco?

Mungkin sebagian besar dari anda mengira bahwa heyhoticco berasal dari kata heiho. Heiho sendiri adalah salah satu pasukan bentukan Jepang yang dibubarkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah pada Belanda dan sebagian anggotanya dialihkan menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI). Mungkin karena tampilan fisik saya yang katanya mirip sama orang jepang dengan logat medok jawa, atau karena mereka tidak pernah dengar band dengan nama Ramones.

Heyhoticco terinspirasi dari salah satu reff lagu Ramones yang sangat monumental yaitu blitzkrieg bop. Lagu dengan aransemen yang sederhana, sekali dengar langsung terngiang di kepala. Semakin anda mencoba untuk melupakan, semakin tidak bisa dilupakan. Persis seperti sensasi ketika mendengarkan lagu band ST12.

Blitzkrieg bop adalah salah satu lagu yang terdapat dalam album pertama ramones yang rilis tahun 1976 (sire records). Dengan penjualan di tahun pertama sebanyak 6.000 kopi dan “hanya” bertengger di no.111 pada billboard chart, album pertama ramones bisa dibilang cukup mengecewakan. Namun, setelah melewati usia rilis yg ke 38, akhirnya album ini berhasil mendapatkan emas dari the Recording Industry of America. Pada tanggal 30 April 2014, album tersebut telah berhasil terjual lebih dari 500.000 kopi.

Masa sih? Kata siapa?

Kata theguardian.com di SINI 

Well, mungkin band ST12 dan seluruh band angkatan awal invasi melayu pop bisa belajar dari ramones. Saat ini banyak yang memandang band-band tersebut dengan sebelah mata. Tapi, kita tidak bisa memprediksi 40 tahun kedepan akan seperti apa. Mungkin kelak genre melayu pop menjadi suatu yang cult, kekinian, oldscholl atau entah istilah apa yang dipakai.

Selanjutnya mari kita bahas aransemen lagu blitzkrieg bop. Walaupun aransemenya sederhana (A, B minor, D, E begitu terus diulang-ulang) sehingga sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang ngakunya punya taste music yang tinggi. Mungkin mereka pikir musik hanya tentang skill mengoperasikan alat musik. Mereka tidak memperhatikan lirik lagu sama sekali. Harap anda ketahui, lirik lagu blitzkrieg bop ini cukup bersayap sehingga timbul beragam interpretasi dari para pendengarnya.

Blitzkrieg sendiri adalah salah satu strategi militer yang digunakan pada saat terbatasnya sumber daya manusia dan persenjataan. Sebuah serangan mendadak, cepat dan tak terduga dengan tidak membiarkan sang lawan untuk bertahan. Apabila dilihat judul dan lirik lagunya sangat wajar apabila kebanyakan orang beranggapan bahwa lagu blitzkrieg bop adalah sebuah lagu tentang peperangan.

Tapi, menurut artikel yang ditulis teamrock.com di SINI. Tommy ramone menulis lagu ini sebagai bentuk penghormatan kepada para fans music rock. Tentang orang-orang yang menonton konser, kemudian merasa enjoy.

Well, apapun itu. Lagu blitzkrieg bop adalah sebuah lagu yang sangat cocok didengarkan pada pagi hari saat hendak pergi sekolah/kuliah/bekerja. Lagu dengan irama riang yang dapat menimbulkan gairah apabila didengarkan pada waktu tersebut. Apalagi ketika kita mendengar kalimat “Hey ho, let's go” secara berulang-ulang.

Semoga orang-orang yang membaca blog saya ini dapat merasakan sensasi yang sama dengan ketika saya mendengarkan lagu blitzkrieg bop di pagi hari. Lebih bergairah dalam menjalani hidup. 

HRUSANGKALI

Thursday, August 22, 2013


3rd WINNER of LOMBA DESAIN ALAS KAKI TINGKAT NASIONAL 2012

HRUSANGKALI inspired by goddess (Dewi) Srikandi arrows. Dewi Srikandi is a woman in the story of shadow puppets (wayang), portrayed as tough and independent so in accordance with the character of the user is a career woman. Dewi Srikandi also a symbol of woman emancipation. HRUSANGKALI arrows distinctive character aplicated in the morphological form of footwear design. Accentuation of parangrusak batik pattern inspired by the clothes worn by Dewi Srikandi. Application of parangrusak batik pattern in footwear design can also represent elements of local wisdom.

In the story of wayang, described HRUSANGKALI can be 1000 arrows when fired. It inspired modular system in footwear design, so the footwear design has various kinds of alternative configurations. In addition to the modular system, it can be replaced by the module if there are parts that are not suitable to be used / damaged, making footwear design environmentally friendly because they do not have to waste the whole footwear.

HRUSANGKALI using a modular system that allows the user disassemble pairs of shoes. Modular system on the shoe is designed as simple as possible to be done by the home (small) industry that is usually found in most countries in Asia, thereby helping improve the economy and the local residents support the concept of a sustainable economy.

HOMAGE STRAP

Wednesday, March 13, 2013



Well, lately I liked the homage watch. A mix of obsession to have the original Panerai watches and my hobbies doing handwork. For those not familiar with the homage watches could be googling to find information about it. LOL
One of the "prestige" of homage watches are handmade strap and buckle, the average value passable (not friendly on the pocket). While there are local products with the same build quality and the price is relatively more "cheap", but still, I want to make it my own. Armed with the rest of the material that I got from my friends as well as references from the internet, I gather the intention to do it.

tools and materials:
1. stainless steel
2. drills, grinders, and saws
3. leather
4. bayklin and leather dyes
5. sewing thread and sewing tools
6. pomade

steps:
1. make the buckle from the stainless steel material, I do not want to explain at length. You simply open the following link. Tutorial from someone I follow -> http://www.indohomage.com/viewtopic.php?f=35&t=4332



2. Cut the skin to the desired pattern, adjust the circumference of your hand. Bleaching using bayklin.




3. Wait until the skin is pale gray, then dry. Then re-dye using leather dye.




4. Sewing leather with buckle suit your imagination. Before doing the sewing process should you seal the threads with pomade for durability.




5. Enjoy the results

BLACK INNOVATION AWARDS GOES TO CAMPUS, UNIBRAW MALANG

Tuesday, March 27, 2012


Be a featured speaker at BIA GTC 2012 event at Brawijaya University, Malang. A talk show relaxed yet powerful, guided by Josua Simanjuntak, Yoris Sebastian, and of course I am. Closed by the appearance of an acoustic duo Endah n rheza.



STANPORTI: TRIPLE KILL, EPIC ENDING

Monday, October 10, 2011


English version HERE

Penggemar kegiatan bersepeda sering enggan memasang stand samping pada sepeda mereka. Hal tersebut karena kesan yang didapat apabila menggunakan side stand pada sepeda mereka. Itu terlihat sangat aneh apabila sepeda yang digunakan sesuai fungsinya (seperti BMX dan DJ yang digunakan untuk melakukan sebuah trick, DH yang digunakan untuk balapan menuruni bukit, atau velobike yang digunakan untuk mencapai kecepatan tinggi, dsb) memasang stand samping. Kecuali jika contohnya anda menggunakan sepeda DH untuk pergi ke acara car free day di minggu pagi, atau untuk membeli sesuatu di minimarket dekat rumah anda (Well, saya pribadi lebih memilih untuk membeli barang-barang di warung yang dimiliki oleh perseorangan dan dikelola secara tradisional daripada membeli di toko atau minimarket dengan jaringan yang luas dan dikelola secara profesional).



Biasanya para penggemar sepeda meletakkan sepeda di paddock stand, namun hal tersebut tidak mudah karena ukuranya yang besar sehingga memakan ruang yang banyak. Masalah berikutnya adalah kurangnya fasilitas umum berupa bike stand / parking untuk para pesepeda di Indonesia. Biasanya mereka menyandarkan sepeda pada pohon / tiang / tembok, membalik sepeda mereka, atau menggeletakkan begitu saja. Perilaku tersebut mengakibatkan resiko sepeda terjatuh, tergores, dll. Stanporti mencoba menjawab permasalahan tersebut. Sebuah desain bike stand portable yang ringan serta mudah dibawa kemana-mana.

Setelah melalui proses yang panjang dan berliku akhirnya stanporti menang di ajang kompetisi bernama Black Innovation Award tahun 2011. Setelah menghadiri awarding night yang diadakan di Jakarta, keesokan harinya saya langsung kembali ke Surabaya dengan flight pertama untuk menghadiri wisuda di kampus saya pada waktu sore. Selain itu, hari tersebut juga bertepatan dengan ulangtahun saya.

Birthday + BIA 2011 outstanding innovator + graduation = rasanya seperti terkena petir di siang hari. Jika anda tidak keberatan, silahkan anda baca berita ini : 








STANPORTI: VOTE ME

Friday, July 29, 2011


English version HERE

Di suatu siang yang panas, seolah matahari ada sembilan buah dan semuanya berada tepat diatas kepala saya. Tiba-tiba ada orang menelepon saya, dan mengucapkan selamat kepada saya. Tetapi tunggu sebentar, ulang tahun saya masih lama, undergraduate theses ku pada waktu itu belum selesai, saya juga tidak pernah mengikuti undian berhadiah dalam bentuk apapun. Saya tidak begitu tertarik pada hadiah yang mereka berikan, saya hanya ingin kamu.

Tunggu...

Sepertinya saya mulai melantur dan kehilangan fokus dalam menulis. LOL

Oke, lupakan apa yang saya katakan, mari kembali ke pokok pembahasan awal.

Setelah mengucapkan selamat kepada saya orang tersebut kembali melanjutkan bicara. Orang tersebut mengatakan bahwa desain saya terpilih masuk dalam 25 besar Djarum Black Innovation Award dan orang tersebut meminta saya untuk melakukan presentasi tentang desain saya untuk menentukan desain yang akan lolos 20 besar. Setelah mendengarkan apa yang she katakan, tiba-tiba mulut saya terkunci dan tidak bisa berkata apapun. Perasaan saya campur aduk menjadi satu, antara senang, terharu, bangga, atau entahlah. Ingin rasanya saya memeluk orang yang berada di sebelah saya, tapi tidak ada seorangpun di sebelah saya. Akhirnya saya cuma bisa memeluk smartphone saya (sebenarnya lebih tepat disebut menggenggam).

Sebenarnya saya sempat lupa pernah submit karya di Black Innovation Award tahun ini dikarenakan kesibukan saya, kesibukan yang mereka sebut undergraduate theses. Setelah saya ingat-ingat lagi, saya pernah mengirimkan sebuah desain yang saya kerjakan dalam waktu kurang dari satu minggu, kemudian saya submit via email pada detik-detik terakhir deadline. Desain yang dihadirkan sebagai sarana refreshing ketika saya jenuh dalam mengerjakan undergraduate theses. Desain yang sempat terlupakan, kemudian tiba-tiba hadir kembali membawa kesejukan di panasnya hari.

Dan apabila anda tidak keberatan silahkan anda nikmati karya saya, kemudian bantu vote. Terima kasih...

link untuk melakukan vote : www.blackxperience.com

SOMETHING CALLED UNDERGRADUATE THESES

Thursday, July 07, 2011





English version HERE

Setelah kurang lebih menempuh waktu satu tahun waktu dalam melaksanakan sesuatu yang dinamakan tugas akhir atau "undergraduate theses", pada akhirnya saya dapat menyelesaikan ini semua. Sempat stres tingkat akut, emosi yang tidak stabil, waktu tidur yang kacau, dan berbagai macam cobaan yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Meningkatnya konsumsi kafein dan nikotin, dan berkurangnya waktu bermain menjadikan hal tersebut sebagai sebuah cerita yang menarik, lucu, tapi sarkastik. Ketika saya mengingat-ingat proses mengerjakan sebuah tugas akhir, saya seperti menonton sebuah film dark comedy. LOL

Sebuah hal yang aneh kalau misalnya ada orang yang berkata "waktu berlalu begitu cepat, saya tiba-tiba sudah wisuda". Bagi saya, ketika mengerjakan tugas akhir waktu berlalu begitu lama dan terasa sangat berat, penuh pengorbanan, darah, dan air mata, sampai akhirnya saya berkata "hei, tugas akhir saya telah selesai."

Saya ucapkan terima kasih bagi semua yang telah mensupport tugas akhir saya. Terima kasih bagi mereka yang meminjami saya mobil pickup untuk mengangkut model dan display untuk pameran tugas akhir saya. Terima kasih juga bagi yang membantu menyetir mobil tersebut, bersama saya memobilisasi, mengerjakan model dan display untuk pameran. Tanpa kalian tugas akhir saya tidak akan berkesan. 

Terima kasih bagi mereka yang mengulas tugas akhir saya pada salah satu portal berita di internet. Ulasan tugas akhir dapat dilihat di : www.kabarindonesia.com


Undergraduate theses milik saya membahas tentang desain street furniture. Bagaimana street furniture di suatu wilayah selain mempunyai sebuah fungsi sebagai sebuah elemen estetis juga mempunyai sebuah fungsi sebagai branding fisik. Undergraduate theses milik saya memberikan sebuah solusi desain berupa street furniture yang dapat membentuk sebuah kesan dan identitas wilayah. selain tujuan utama tersebut, street furniture ini tetap memperhatikan aspek fungsionalnya lewat kenyamanan, keamanan, kebersihan.

Penjelasan lebih detail dapat dilihat pada link berikut ini : digilib.its.ac.id

© heyhoticco.